Sejarah E-PR

Kemunculan E-PR tidak bisa dipisahkan dari perkembangan kehumasan itu sendiri. Mulai dari munculnya humas pertama kali yang dicetuskan oleh Bapak Komunikasi Ive Ledbetter, yang mampu menanggulangi krisis industri batu bara di Amerika hingga konsep PR atau humas modern menyebar dengan cepat ke seluruh Amerika dan akhirnya seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Perkembangan PR dalam Teknologi Dunia Baru

Seiring berjalannya waktu perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) juga semakin canggih. Tak jarang dari kemajuan Iptek yang ada, seringkali menawarkan solusi dengan memberi kemudahan akan setiap kesulitan yang dihadapi dalam melakukan aktivitas pekerjaan termasuk PR.

Salah satunya media komputer yang dilengkapi dengan internet. Sayangnya, tingkat kesadaran masyarakat terhadap manfaat teknologi seperti internet sampai saat ini masih minim. Hal ini terbukti dari cukup banyaknya perusahaan yang memiliki informasi dan ditaruh di dalam situs webnya, namun terkubur dalam kuburan informasi supercepat di dunia maya Karena kurang atau tidak ada yang mengunjunginya. Untuk itu, sungguh sayang sekali apabila kemudahan dari fasilitas ini hanya dilewatkan begitu saja. Media internet semula tidak dirancang untuk kepentingan komersial, namun sebagai alat komunikasi untuk menyebarluaskan informasi. Inilah kunci keberhasilan suatu bisnis di internet jika mengingat tujuan semula media internet diciptakan. Dengan kemampuan menyesuaikan tujuan media internet seperti semula, pada dasarnya kita bisa memanfaatkan sebagai media PR dan bisnis. Untuk mencapai hal itu, tentunya dibutuhkan kemampuan untuk berkomunikasi sehingga kepercayaan massa dapat tercipta dan melibatkan hubungan yang saling memberikan manfaat dengan target public[3]. Kehadiran teknologi komputer dan teknologi komunikasi khususnya selalu mengiringi perkembangan sejarah PR. Hingga muncul teknologi Web 2.0, dengan segala kelebihannya, menjadikan tugas dan fungsi humas menjadi lebih efektif dan meluas. terutama sekali ditunjang oleh berbagai perangkat seperti email, kartu nama elektonik, autoresponder, dan juga direct mail dan masih banyak lagi seperti blog, media sosial, dll.

Sejumlah perangkat tersebut diatas merupakan sarana yang efektif untuk membangun dan meruntuhkan reputasi. Email sebagai alat komunikasi untuk membangun komunitas online, menjual produk, dan menyediakan pelayanan konsumen yang baik. Melalui media sosial, humas bisa langsung mendapatkan respon atau umpan balik dari komunikasi yang dilakukan atau disampaikan kepada publiknya, sehingga terjalin komunikasi dua arah yang lebih signifikan.

Perkembangan di Indonesia

Humas di Indonesia dimulai dengan dibentuknya divisi Hubungan Pemerintah dan Masyarakat (HUPMA) di Pertamina, pada tahun 1950. Pada saat itu divisi kehumasan ini berfungsi untuk menghubungkan klien, relasi, masyarakat, perusahaan swasta, perusahaan negara, maupun perusahaan asing.

Empat tahun kemudian masyarakat Indonesia dikenalkan dengan divisi baru di lembaga kepolisian yang diberi nama divisi HUMAS. Divisi ini yang akan melakukan kontak intensif dengan masyarakat sekaligus sebagai penyambung lidah bagi kelembagaan ini. Dan kemudian dua institusi awal ini lah yang kemudian menginspirasi institusi-institusi lain agar membentuk divisi yang sama. Pada tahun 1970 humas sudah memiliki tempat di banyak jajaran kelembagaan di Indonesia[4].

Lembaga pemerintahan Indonesia lainnya pun tidak ketinggalan ingin mencoba manfaat adanya humas. Maka pada tahun 1962, masa presidium kabinet Perdana Menteri Indonesia ke sepuluh Djoeanda Kartawijaya, setiap instansi diinstruksikan agar membentuk divisi humas[5].

Pada tahun 1967 berdiri Koordinas antar Humas Departemen/Lembaga Negara (Bakor) yang dipimpin oleh pimpinan setiap departemen. Bakor dalam perjalanannya diubah nama menjadi jadi Bako-Humas (badan koordnasi kehumasan pemerintah). Tujuannya pun diupgrade lebih kompleks sebagai badan yang berfungsi koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi penerangan dan kehumasan.

Tahun 1972 hingga 1993 disebut sebagai periode kehumasan dalam lembaga swasta umum. Dikatakan demikian karena rentang tahun ini swasta mulai giat untuk membentuk dan menggunakan jasa public relations. Buktinya pada tanggal 15 Desember 1972 didirikan Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) sebagai rumah para profesional HUMAS di instansi swasta maupun pemerintah.

Di akhir tahun 1993 diadakan konvensi nasional humas di Bandung. Konvensi ini sangat bersejarah dan memberikan konstribusi terhadap dunia public relations di Indonesia karena berhasil melahirkan Kode Etik Kehumasan Indonesia(KEKI).

 

___________
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/E-PR#Sejarah_E-PR

mautic is open source marketing automation